Ringkasan nasional • diperbarui 23 Juli 2026

Prakiraan Musim
hingga Desember 2026

Indonesia memasuki fase kemarau yang lebih kering, dengan El Niño kuat aktif pada Juli 2026. Periode Agustus–September menjadi fase paling kritis untuk kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, ketersediaan air, serta operasional pertanian dan perkebunan.

El Niño kuat aktif Puncak kemarau: Agustus Risiko utama: kekeringan & karhutla
Lihat prakiraan bulanan
56,18%Luas daratan diprediksi mengalami musim kemarau bawah normal.
48,84%Luas daratan diprediksi mencapai puncak kemarau pada Agustus.
48,77%Luas daratan diprediksi mengalami kemarau lebih panjang dari normal.
10–21Dasarian durasi kemarau dominan pada sebagian besar wilayah.
Gambaran utama

Apa yang perlu dipahami sampai akhir 2026?

Ringkasan berikut menyatukan pemutakhiran musim kemarau, dinamika ENSO, prediksi hujan bulanan, dan peringatan dini kekeringan BMKG.

Periode paling kering

Agustus–September menjadi jendela risiko tertinggi secara nasional.

  • Agustus diprediksi menjadi puncak kemarau di 369 ZOM.
  • Curah hujan rendah 0–100 mm/bulan mencakup 71,55% wilayah pada Agustus.
  • Cakupan hujan rendah meningkat menjadi 77,46% pada September.
  • Wilayah luas di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masuk kelompok rawan.

Peralihan Oktober–Desember

Hujan mulai kembali secara bertahap, tetapi waktunya tidak seragam antarwilayah.

  • Oktober masih menyisakan kantong sangat kering, terutama di selatan Indonesia.
  • November menunjukkan penyusutan area berpeluang hujan <50 mm/bulan.
  • Outlook tahunan BMKG menempatkan Desember pada sifat hujan normal di sekitar 83% wilayah.
  • Ketika hujan kembali, perhatian bergeser dari kekeringan ke banjir, longsor, dan erosi lokal.
72,8%

ZOM sudah memasuki kemarau

Status perkembangan musim pada Dasarian II Juli 2026.

89,97%

Sifat hujan bawah normal

Kondisi pengamatan pada Dasarian II Juli 2026.

83,0%

Outlook Desember normal

Gambaran nasional jangka panjang; tetap perlu pembaruan bulanan.

Agustus—Desember

Prakiraan bulanan dalam satu tampilan

Pilih bulan untuk melihat kondisi dominan, wilayah perhatian, dan implikasi operasional.

Cakupan curah hujan rendah

Persentase wilayah Indonesia dengan prediksi 0–100 mm/bulan.

BMKG
71,55%
Agustus
77,46%
September

Pergeseran risiko bulanan

Indeks komunikasi kualitatif berdasarkan cakupan wilayah kering dan fase musim.

Agustus
Sangat tinggi
September
Sangat tinggi
Oktober
Tinggi
November
Menurun
Desember
Lebih rendah
lebih rendahtinggisangat tinggi
Grafik risiko ini bukan probabilitas resmi BMKG. Skala digunakan untuk memudahkan pembacaan pola bulanan dari informasi resmi yang tersedia.
Wilayah & sektor perhatian

Tiga risiko yang perlu dikelola bersamaan

El Niño dan kemarau tidak hanya mengurangi hujan. Dampaknya menjalar ke air, lahan, kesehatan, pertanian, perkebunan, dan operasi lapangan.

Ketersediaan air

  • Debit sumber air dan embung menurun.
  • Kebutuhan irigasi meningkat.
  • Potensi konflik alokasi air bertambah.

Karhutla & kualitas udara

  • Vegetasi kering menjadi bahan bakar.
  • Lahan gambut memerlukan patroli intensif.
  • Asap dapat mengganggu kesehatan dan transportasi.

Pertanian & perkebunan

  • Stres air menekan pertumbuhan.
  • Jadwal tanam dan pemupukan perlu adaptif.
  • Risiko kehilangan hara berubah saat hujan kembali.
Peringatan dini kekeringan

Status Dasarian III Juli 2026

BMKG membagi tingkat peringatan berdasarkan durasi hari tanpa hujan dan peluang hujan berikutnya.

Waspada

18

Provinsi memiliki kabupaten/kota pada tingkat waspada.

Lihat wilayah
Bali, Banten, DI Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Maluku Utara, NTB, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.

Siaga

14

Provinsi memiliki kabupaten/kota pada tingkat siaga.

Lihat wilayah
Bali, Banten, DI Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

Awas

3

Provinsi memiliki kabupaten/kota pada tingkat awas.

Lihat wilayah
DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Langkah praktis

Prioritas tindakan Agustus–Desember

Fokuskan sumber daya pada tindakan yang menjaga air, mencegah kebakaran, dan mempertahankan kegiatan produksi secara aman.

1
Amankan sumber air

Audit embung, sumur, pompa, jaringan distribusi, dan kebutuhan minimum setiap unit kerja.

2
Perkuat patroli karhutla

Petakan titik rawan, siapkan sekat bakar, sumber air, alat pemadaman, dan komunikasi lapangan.

3
Sesuaikan budidaya

Atur jadwal tanam, pemupukan, pengendalian gulma, dan pemeliharaan berdasarkan kelembapan tanah.

4
Pantau pembaruan rutin

Gunakan prediksi bulanan, dasarian, hari tanpa hujan, dan peringatan dini resmi BMKG.

5
Siapkan fase transisi

Bersihkan drainase sebelum hujan kembali untuk mengurangi genangan, erosi, dan pencucian hara.

6
Lindungi pekerja

Atur jam kerja, air minum, masker saat asap, serta prosedur tanggap panas dan kebakaran.

Rujukan resmi

Sumber data BMKG

Semua angka utama pada halaman ini berasal dari publikasi resmi BMKG. Gunakan tautan berikut untuk melihat pembaruan terbaru.

Catatan penting: prakiraan iklim bersifat probabilistik dan dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer-laut. Informasi Agustus–Oktober memiliki dukungan pemutakhiran lebih baru, sedangkan gambaran November–Desember perlu dibaca sebagai outlook yang harus diverifikasi melalui pembaruan BMKG berikutnya. Halaman ini bukan pengganti peringatan operasional resmi.